Buat Mereka Bangga
23
Sept 2013
Pagi
yang cerah
untuk
mimpi yang indah
ku
bangun dari tidurku
matahari
indah menyapaku
Terima
kasih Tuhan untuk hidup yang Engkau berikan pagi ini
semoga
masih ku nikmati nafas ini hingga malam nanti dan esok hari.........
Bella
beranjak dari tidurnya. Buku yang berserakan di kasur dan lantai tak
dihiraukannya. Jam menunjukkan pukul 05.30 WIB. Bella menuju kamar mandi
mengambil wudhu untuk mengerjakan sholat Subuh. Hari Sabtu adalah hari weekend,
Bella sengaja bangun pagi karena ada janji sama ayahnya mau jogging di kompleks
rumah.
“Bella, udah siap belum? Ayah
tunggu di teras ya!” teriak Ayah Yasmin dari lantai bawah.
“iya yah bentar lagi, Bella
beres-beres kamar dulu” jawab Bella
Bella
adalah anak tunggal. Dia hidup di keluarga yang cukup berada. Ayah dan Ibunya
adalah pegawai perusahaan ternama di Jakarta. Sudah barang tentu orangtua Bella
tidak banyak menghabiskan waktu di rumah, sehingga Bella sering merasakan sepi.
Bella sengaja membuat janji dengan ayahnya, agar dia mempunyai sedikit waktu
untuk bercerita dengan ayahnya.
“ayo yah kita capcuss, buk kami
jogging dulu ya” ucap Bela sambil menyalami ibunya.
“iya hati-hati ya sayang” jawab ibu
Bella yang berada didekat pintu.
**
Disepanjang
perjalanan jogging, ayah dan Bella bercanda tiada henti, seolah-olah jiwa
disekeliling mereka larut dalam canda kedua anak manusia tersebut Bella sudah lama tidak merasakan kebahagiaan
ini sebelumnya.
“Ayaah, udah lama ya kita gak
jogging kayak gini, Bella kangen” ucap Bella agak malu-malu.
“Iya ayah juga kangen nak, maaf ya
ayah terlalu sibuk jadi gak banyak waktu buat Bella” jawab ayah.
“iya yah gakpapa, Bella ngerti kok”
ucap Bella sambil tersenyum
Bella
dan Ayah istirahat sejenak di taman kompleks, mereka melihat ada tukang bubur
ayam di samping tempat mereka beristirahat, lalu ayah memesan dua mangkuk bubur
kepada si penjual. Bella daritadi memasati ayahnya dari samping, rambut ayahnya
terlihat memutih, matanya tampak lesu, tidak terlihat lagi kewibawaan dari dalam
dirinya, mungkin beliau terlalu capek bekerja atau memang usianya yang sudah
mendekati lanjut, jadi sudah terlihat banyak perubahan dalam dirinya. Bella
menundukkan kepala, ia hanya merenungi apa yang dilihatnya.
“bubur ayamnya enak ya yah hehe”
ujar Bella sambil tertawa kecil
“iya enak nak, udah lama juga gak
makan bubur ayam” jawab Ayah
Bella
sangat bahagia bisa melihat senyum yang terukir di wajah ayahnya. Dia menyadari
jika dia sudah dewasa sekarang, dia tidak berhak lagi untuk bermanja-manja
dengan ayahnya. Bella sudah cukup kuat berdiri sendiri tanpa bantuan
orangtuanya.
“ayah, Bella mau kerja boleh
nggak?” ujar Bella agak sedikit takut
“kerja? kamu gak mau kuliah nak?”
jawab Ayah agak sedikit terkejut
“iya yah Bella mau kuliah tapi mau
pake uang Bella sendiri, makanya Bella mau kerja, lagian Bella udah gede, udah
bisa mandiri” ucap Bella sambil berharap Ayahnya mengizinkannya
“Ya tapi.....” jawab ayah ragu-ragu
“tenang aja yah, Bella akan
baik-baik aja kok” ucap Bella sambil tersenyum simpul.
Bella
menyadari pemikirannya sudah cukup dewasa tentang kehidupan, dengan melihat kerja
keras kedua orang tuanya, melihat fisik yang sudah tidak lagi muda, Bella
berjanji suatu saat akan membanggakan kedua orangtuanya dengan cara Bella
sendiri.
**
“Buk,
yah hari ini perpisahan sekolah Bella ntar dateng ya, awas kalo gak dateng”
ucap Bella sambil merapikan pakaian kebayanya.
“Waduh anak ibu cantik banget, Iya
insyaallah ibu dan ayah dateng kok” ucap ibuk sambil merapikan dasi ayah.
“Oke, Bella pergi dulu ya buk yah,
assalamualaikkum” ucap Bella sambil bersalaman dengan kedua orang tuanya.
Akhirnya
Bella sudah sampai di sekolah, tenda yang besar di lapangan basket depan
sekolah menyudutkan perhatiannya. Dekorasi yang dipenuhi kupu-kupu kertas
membuatnya semakin deg-degan untuk tampil disana.
“Hey Bell, gimana persiapan
puisnya? Semoga sukses ya, doa kami menyertaimu. Buat bangga sekolah ini dengan
prestasimu” ucap teman-teman Bella yang menemui Bella di ruangan kelas.
“Iya aku siap kok, makasih ya
teman-teman buat doanya” ucap Bella sambil tersenyum.
Tak
terasa waktu telah menunjukkan pukul 11.00 WIB, lapangan basket yang berubah
jadi tenda besar dan kursi-kursi yang disediakan orangtua murid telah penuh.
Bella melambaikan tangan kepada ibu dan ayahny yang berada di kursi kedua dari
depan.
“Bella cantik banget ya yah” ucap
ibu Bella kepada ayah.
“Iya buk, siapa dulu dong anak ayah
heheh” ujar ayah sambil tertawa kecil.
Master of ceremonytelah membuka acara
perpisahan itu dengan khidmat. Adik-adik tingkat Bella telah menampilkan berbagai
kreatifitas mulai dari menyanyi dan menari. Dan untuk penampilan terakhir Bella
tegak di panggung yang berada di depan tenda besar, membacakan puisi dengan
nuraninya
“Aku mungkin seorang anak manja dalam pemikiran sebagian orang
Aku
mungkin seorang anak perempuan yang tak lebih dari anak yang tergantung dengan kehidupan
orang tua
Tapi
aku tetap aku
Yang
akan mencoba keluar dari kotak kecil keluargaku
Hidup
sebagaimana orang bilang
Hidup
ini keras, Hidup ini tak semudah membolak-balikkan telapak tangan
Tapi
ku berjanji
Akan
ku genggam dunia ini bersama kalian
Teman-temanku
seperjuangan”
Riuk pikuk tepuk
tangan membanjiri tenda besar itu, berbagai pujian dari penjuru tenda pun riuh.
Bella tersenyum simpul, dia tak menyangka akan setenang itu membaca puisi dan
disambut dengan penuh keriuhan.
“yah, ibuk bangga banget sama
Bella, ibuk gak nyangka dia bisa baca puisi seindah itu” ucap ibu Bella
terharu.
“Iya, ayah juga bangga buk, putri
ayah ternyata bisa membahagiakan semua orang dengan puisinya” ucap ayah Bella
juga terharu.
Bella
memeluk kedua orang tuanya, tangispun tak mampu dibendungnya. Ayah dan Ibu
mengecup kening Bella.
0 komentar