Maafkan aku mencintaimu... (cerpen pertamaku)
3 Sept
2013
Feny dan Bilda adalah sahabat yang
sangat dekat Mereka sekarang duduk di
kelas 2 di sekolah yang sama yaitu SMA Harapan. Mereka selalu berdua dimanapun
tempatnya. Feny seorang gadis yang cantik, tinggi, putih, rambut panjang dan
mempunyai lesung pipi. Dia aktif dalam kegiatan OSIS dan termasuk cewe populer
di sekolahnya. Sedangkan Bilda adalah seorang gadis yang tomboi, manis, putih,
rambut pendek seperti cowo, dan jago main basket. Feny dan Bilda sering disebut
saudara kembar, karena mereka selalu berdua dan tak pernah terpisah. Di kantin,
saat makan mereka sering suap-suapan dan saat berjalan mereka sering
bergandengan bahu. Anak-anak satu sekolah pernah membully mereka dengan sebutan LESBY karena ya gitu, mereka selalu
berdua.
**
Di kelas II A pelajaran Fisika
sedang berlangsung. Feny dan Bilda yang duduk di bangku nomor dua barisan
ketiga sebelah pintu saling cekikikan. Pak Lukman yang tiba-tiba mendengar
keributan langsung menegur Feny dan Bilda. “eHmm.. Feny Bilda apa yang kalian
tertawakan? Kalian tidak memperhatikan Bapak berbicara ya daritadi?” ucap Pak
Lukman membentak. Feny dan Bilda hanya terdiam. Teman-teman menatap mereka
sinis. “Tuh rasain lo, makanya kalau duduk dipisah, jangan beduaan mulu” ledek
Yayan dari belakang. “huh.. kenapa lo gak suka? cemburu ya gue beduaan terus
sama Feny” jawab Bilda membalas ngeledek Yayan. Feny hanya tersenyum melihat
Bilda dan Yayan sibuk sendiri.
**
“Tooottttt.....” suara bel jam
istirahat berbunyi.
Feny dan Bilda langsung menuju
kantin. Mereka duduk berhadapan. Bilda berdiri menuju tempat memesan makanan.
“Fen lo mau mesen apa, nanti gue pesenin”
tanya Bilda.
“Serah lo deh Bil, kan selera kita
sama” jawab Feny sambil mengotak-ngatik hp-nya.
“Oke, mie ayam mau?” tanya Bilda
lagi. “Iya terserah” jawab Feny
Bilda duduk kembali di hadapan
Feny. Mereka saling bercengkrama sesambil menunggu makanan mereka datang.
Sesekali Bilda memegang rambut Feny. Feny yang sangat asyik bercerita tak
terlalu memperdulikan Bilda yang memegang rambutnya. Dia menganggap itu hal
biasa. Sesekali juga, Bilda mendekatkan tangannya ke Feny, tetapi Feny terlalu
lincah karena tangannya selalu bergerak kesana kemari saat bercerita. Pesanan
pun datang, mereka sangat menikmatinya dan sesekali mereka bersuapan. Semua
anak kantin tak aneh lagi melihat kelakuan mereka berdua. Mereka hanya
tersenyum meledek saat melihat Feny dan Bilda bersuapan.
“Fen, ntar sore gue ada
pertandingan basket nih di SMA Mandiri, lo dateng ya” ucap Bilda sambil
tersenyum kepada Feny.
“Hahh... sore ini Bil? Gue udah
janji mau nemenin Ardha nge-band, gimana dong?” jawab Feny agak sedikit
terkejut.
“iya sore ini, tapi ya kalo memang
gak bisa dateng yaudah. Tapi gue harap lo bisa!” jawab Bilda dengan suara
rendah.
Feny bingung bukan kepalang,
apakah dia harus memilih Bilda atau Ardha. Dia hanya menunduk seperti orang
melakukan kesalahan. Suara bel masuk sudah berbunyi. Bilda mengajak Feny masuk
ke kelas.
**
Ardha adalah pacarnya Feny yang
seorang Mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta. Ardha dan Feny
berpacaran hampir 3 tahun yaitu sejak Feny kelas 2 SMP dan Ardha kelas 1 SMA.
Mereka selalu kompak dan jarang banget berantem. Ardha adalah tipe cowo yang
romantis, perhatian, dan tampan. Teman-teman mereka menjuluki mereka Romeo dan
Juliet. Pulang pergi sekolah Feny selalu dianterin Ardha.
Bilda tahu kalau Feny dan Ardha
berpacaran karena Feny sering cerita. Bilda sering menampakkan muka cemberut
setiap melihat Feny dan Ardha sedang berpacaran. Tetapi Feny tidak terlalu
menanggapinya, malah dia menganggapnya lucu saat melihat Bilda sedang cemberut.
**
“mana nih Feny kok belum dateng,
mana bentar lagi pertandingannya dimulai” ucap Bilda dengan nada cemas. Bilda
yang memakai baju kaos olahraga grup basket warna merah pendek dan rambut yang
dikucir membuat sifat tomboinya makin terlihat. Sesekali dia mengusap keringat
di kening dan lehernya saat pemanasan. “Prriiiiiiiiiiit....” suara pluit
berbunyi menandakan pertandingan akan dimulai. Bilda tampak tidak bersemangat.
Sesekali dia melihat kearah penonton dan dia tidak sama sekali melihat Feny.
Skor berakhir dengan 52-55. SMA Mandiri menang. Suara riuh penonton memenuhi
area lapangan. Grup SMA Harapan kalah. Semuanya tampak lesu tak terkecuali
Bilda.
“Ardha, ayo temenin aku sebentar
ke SMA Mandiri, hari ini Bilda tanding Basket” pinta Feny kepada Ardha.
“Okee, let’s go sayang” jawab
Ardha.
Feny tiba di lapangan SMA Mandiri.
Lapangan tersebut tampak sepi. Jam memang telah menunjukan jam 17.00 WIB
sedangkan pertandingan basket dimulai pukul 15.00 WIB. Feny merasa sangat
bersalah, dia memukul-mukuli dirinya sendiri. Ardha mencoba menenangkan Feny.
Feny menelpon Bilda beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Feny menangis, ia
tahu pasti Bilda marah kepadanya.
**
Seesok harinya disekolah, Feny
menegur Bilda. “Bil.. maafin gue. Gue dateng kok kemaren sama Ardha ke tempat
pertandingan lo, tapi pas gue liat udah sepi. maafin gue Bil” ucap Feny dengan
nada hampir menangis. Anak-anak satu kelas melihat mereka heran. Bilda hanya
diam dan memalingkan muka. Dia pindah tempat duduk ke bangku yang paling depan.
Feny gak kuat menahan tangisnya. Kemudian dia mengusapnya saat bel masuk telah
berbunyi.
“Gue gak marah fen, gue gak pernah
bisa marah sama lo. Gue sayang sama lo” ucap Bilda dalam hati. Selama
perjalanan berlangsung, Bilda terus menunduk dan membolak balik buku,
mencoret-coret bukunya tidak karuan. Kebetulan Guru Kimia kelas mereka tidak
datang, jadi para siswa hanya disuruh mengerjakan tugas. Di salah satu buku
tulis Bilda, Bilda menggambar sebuah gambar dua orang cewe yang saling
berpegangan tangan di sebuah taman dan dibawahnya tertulis B&F. Teman
disebelah Bilda yang tak sengaja melihat Bilda menggambar, langsung menarik
buku yang sedang digambar oleh Bilda.
“Wooy kawan-kawan liat nih gambar!
Romantis banget tau nggak! mana ada tulisan B&F nya. Siapa lagi kalo bukan
Bilda dan Feny! Bilda suka sama Feny woy. Bilda LESBY” teriak Oliv teman
sebangku Bilda berlari kedepan kelas. Suara di kelas langsung riuh.Beberapa
dari mereka menyoraki Bilda. Bilda terlihat panik, dia berlari ke arah Oliv
lalu keluar kelas dan mengambil buku yang dipegang Oliv. “Huuuuuhhhh.... “
teriak anak-anak dalam kelas. Feny yang daritadi melihat kejadian di depan
kelas tak dapat berbicara. Feny keluar menyusul Bilda.
**
Di halaman belakang sekolah, Feny
menemukan Bilda duduk di kursi yang berada di bawah pohon. Feny duduk disebelah
Bilda agak berjauhan. “Bil, yang tadi gak bener kan? F itu bukan gue kan?”
tanya Feny dengan suara rendah menatap Bilda yang sedang menunduk.
“kalo bener kenapa? lo mau
nyorakin gue juga” jawab Bilda dengan nada ketus. Feny terdiam sejenak. “tapi
gak mungkin Bil, kita kan sahabat, kita sama-sama cewe gak mungkin lo bisa suka
sama gue” jawab Feny. Bilda berdiri lalu menghadap Feny.
“Oke sekarang gue jujur,
gue......... gue emang suka sama lo Fen! bukan suka lagi, tapi gue sayang sama
lo! Gue gak tau kenapa bisa kayak gini, yang pasti setiap gue liat lo sama
Ardha gue cemburu, gue kesel! Baru kali ini gue suka sama seseorang, dan gak
tau kenapa gue sukanya sama lo Fen. Maafin gue...” ucap Bilda sambil menahan
tangisnya dan memegang tangan Feny. Feny terdiam. Feny gak menyangka Bilda
mempunyai perasaan itu kepadanya.
“Bilda, lo gila ya? kita cewe Bil.
Kita sahabatan. Lo itu sudah gue anggap kakak gue sendiri. Beneran gue speechless denger lo bilang kayak tadi.
Mulai sekarang gue gak mau kenal sama lo lagi.Gue benci sama lo. Gue
benci..............” ucap Feny dengan terisak dan air mata yang mengalir di
pipinya. Feny berlari menuju ke kelasnya dan meninggalkan Bilda sendirian.
“Feny........... maafin gue”
teriak Bilda berharap Feny mendengar.
**
Sejak kejadian 2 bulan lalu, Feny
dan Bilda tidak pernah lagi tampak berduaan. Feny sekarang berteman dengan Oliv
dan Yayan sedangkan Bilda tampak selalu sendirian. Cinta membutakan hati Bilda.
Semua yang dulu dekat dengannya sekarang menjauh darinya. Kabar Bilda menyukai
Feny sudah terdengar di seluruh pelosok sekolah. Bilda sering dicemooh oleh
teman-teman satu sekolahnya. Bilda stress.
Dia memutuskan untuk pindah sekolah dan melupakan semua kenangannya bersama
Feny di SMA Harapan ini
**
0 komentar